Ada orang yang semula bertekad untuk hidup benar dan membenci kejahatan, tetapi kemudian gagal memelihara komitmen tersebut. Apa yang menyebabkan kegagalan itu? Salah satunya adalah tekanan yang mereka alami dari orang-orang yang justru menyukai kejahatan. Orang-orang yang aktif melakukan berbagai kejahatan karena pola pikir mereka telah diwarnai oleh hal-hal yang jahat, bahkan hati mereka telah dikuasai oleh kejahatan. Inilah yang membuat istilah “kejahatan” berkaitan dengan “orang fasik”.
Orang fasik, yaitu orang yang memusuhi TUHAN dan orang-orang benar, tidak menyukai keberadaan orang yang mengasihi TUHAN dan mau hidup dalam kebenaran-Nya. Pemazmur, baik dari pengalaman pribadi maupun pengamatannya, melihat ancaman ini. Ia mengungkapkan keyakinannya sekaligus mengajak umat untuk tidak takut kepada orang fasik dan upaya mereka menekan orang benar. Bukan karena orang benar mampu mengatasi tekanan itu dengan kekuatannya sendiri, melainkan karena TUHAN yang terus memelihara dan menyelamatkan orang benar.
Orang fasik berusaha menekan orang-orang benar dengan berbagai cara agar mereka berubah haluan dan ikut dalam kelompok orang fasik. Tekanan itu dapat berupa pengucilan, fitnah, bahkan tindakan kekerasan. Ada juga tekanan dalam bentuk lain, yaitu tawaran kenyamanan dalam hal-hal material. Tetaplah mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan. Percayalah pada pemeliharaan Tuhan.
DOA:
Ya Allah, Bapa di surga, teguhkan kami untuk terus mengasihi-Mu, membenci kejahatan, dan hidup dalam kebenaran. Amin.
Kel. 32:15-35; Mzm. 97; Yud. 17-25
