“Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur; lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit, dan lembah.” Itulah sepenggal syair dari nyanyian Kidung Jemaat (KJ) 337. Lagu tersebut mengajak para pendengarnya untuk melihat betapa besar kebaikan Allah melalui alam ciptaan-Nya.
Kebaikan TUHAN inilah yang juga diungkapkan oleh pemazmur. Ia mengajak para pembaca untuk melihat berkat Allah yang telah diberikan kepada umat-Nya. Secara khusus, pemazmur mengajak melihat berkat Allah melalui dunia agraria yang dekat dengan bangsa Israel. Ia mengungkapkan bahwa Allah memberikan kelimpahan, termasuk hasil gandum yang baik. Selain itu, Allah juga mengaruniakan hujan untuk menggemburkan tanah pertanian bangsa Israel. Hewan-hewan peliharaan juga Allah berkati sehingga dapat bertumbuh dengan baik dan menghasilkan lemak. Inilah bukti bahwa Allah senantiasa mengingat dan memberkati umat-Nya.
Youth, berkat Allah juga terus mengalir dalam kehidupan kita hingga saat ini. Meskipun demikian, terkadang kita tidak melihat berkat Allah karena lebih fokus pada apa yang tidak kita miliki dan kita rasakan saat ini. Kini, lihatlah dan rasakan lebih dalam bahwa berkat Allah terus mengalir melalui udara yang dapat kita hirup, melalui keluarga yang kita miliki saat ini, serta melalui kesabaran dan kekuatan yang membuat kita dapat bertahan dalam pergumulan hingga hari ini. Inilah yang seharusnya membuat kita terus mengimani, “betapa kita tidak bersyukur”.
- Mengapa pemazmur mengajak pembacanya untuk bersyukur?
- Mengapa terkadang kita sulit untuk melihat berkat Allah?
Pokok Doa: Dapat melihat berkat-berkat Allah dan bersyukur atasnya.
