Seorang pedagang kecil pernah menipu rekannya, hingga usaha rekannya bangkrut. Bertahun-tahun ia hidup dalam penyesalan. Ia menghindari temannya karena rasa takut yang menghantuinya. Namun, suatu hari mereka tak sengaja bertemu di pasar. Hatinya berdebar kencang. Ia ingin lari, tetapi juga ingin berdamai. Dalam kepanikan, ia berdoa, “Tuhan, aku takut, tolong bantu aku menghadapi ini.” Setelah itu, ia memberanikan diri menyapa rekannya. Tanpa diduga, mereka berdamai dan mulai saling mendoakan. Ia berkata, “Saat takut, saya datang kepada Tuhan.”
Dalam Kejadian 32, Yakub hendak bertemu kembali dengan Esau, kakaknya, yang dulu ia tipu. Ia sangat takut. Dalam ayat 11, Yakub berkata jujur kepada TUHAN, “Lepaskanlah kiranya aku dari tangan Esau, saudaraku…” Ketakutannya nyata, tetapi ia tidak lari. Ia berdoa. Di tengah rencana, strategi, dan pemberian yang ia siapkan, Yakub tetap mengandalkan TUHAN.
Sahabat Senior, rasa takut bisa datang kapan saja: takut tentang kesehatan, masa depan anak cucu, atau masa tua yang sepi. Namun, firman hari ini mengajak kita, seperti Yakub, untuk tidak hanya sibuk mencari solusi, tetapi datang terlebih dahulu kepada Tuhan. Saat kita jujur dalam doa, Tuhan akan bekerja melebihi apa yang bisa kita atur. Doa bukanlah langkah terakhir, tetapi langkah pertama yang paling penting.
DOA:
Tuhan, hidup kami tidak lepas dari ketakutan. Namun, kami percaya Engkau lebih besar dari ketakutan kami dan akan menguatkan kami. Amin.
