Florence Chadwick adalah perenang wanita Amerika pertama yang berhasil menyeberangi Selat Inggris dari dua arah. Pada1952, ia mencoba menyeberangi laut dari Pulau Catalina ke pesisir California. Air lautnya sangat dingin. Kabut yang sangat tebal membuatnya tidak bisa melihat ke mana arah ia berenang, bahkan daratan pun tidak kelihatan. Setelah hampir 15 jam berenang, Chadwick menyerah. Ternyata ia hanya berjarak kurang dari 1 km dari daratan. Chadwick mengatakan bahwa ia berhenti berenang bukan karena kelelahan, melainkan karena tidak bisa melihat daratan. Jika ia tahu seberapa dekat dirinya dengan daratan, ia akan terus berenang.
Jemaat Tesalonika mulai kehilangan arah dan harapan karena munculnya ajaran palsu tentang akhir zaman. Paulus mengingatkan mereka bahwa sejak semula Allah telah memilih dan menguduskan mereka. Mereka harus percaya kepada Allah dan tidak perlu takut dan bimbang. Sebab, Allah setia dan terus menguatkan hati dan memelihara mereka dari yang jahat. Tuhan tidak akan meninggalkan dan membiarkan mereka berjalan sendirian di tengah tekanan dan kebimbangan. Dunia memang bisa berubah, nilai-nilai pun bisa kabur tetapi kasih setia Allah tidak akan pernah berubah.
Seperti Chadwick yang berenang dalam kabut, kita bisa juga menjalani hidup tanpa tahu kapan “daratan” itu akan terlihat, kapan masalah selesai, kapan doa dijawab, atau kapan jalan terbuka. Youth, tetaplah tenang. Tuhan mengetahui jalan yang benar. Karena itu, jangan berhenti, teruslah melangkah meski sulit dan berat. Tuhan akan menguatkan dan memelihara kita.
- Mengapa Paulus meminta jemaat untuk berdiri teguh (2 Tesalonika 2:15)?
- Apa satu langkah konkret yang bisa kamu ambil untuk terus melangkah dalam iman, walau situasinya belum berubah?
Pokok Doa: Tidak goyah, tetap berdiri, dan terus melangkah dalam iman.
