Panitia pengumpulan bantuan untuk korban bencana alam menjadi pusing tujuh keliling. Sumbangan pakaian yang diterima sangat banyak, tetapi sebagian besar dalam keadaan kotor, tidak layak pakai, berbau apek, bahkan ada yang robek di sana-sini. Panitia pengumpulan bantuan merasa sedih bercampur kesal melihat begitu banyak bantuan yang diberikan secara asal-asalan tanpa ketulusan hati.
Abraham melihat tiga orang asing berada di bawah pohon di dekat kemahnya. Mereka bukan tamu maupun sanak keluarga, melainkan orang-orang yang kebetulan melintas. Namun, Abraham berlari menyongsong mereka. Bahkan, dengan sujud ke tanah, ia memohon kesediaan ketiga orang asing itu untuk singgah. Abraham juga meminta Sarai membuat roti dari tepung terbaik yang mereka miliki, memotong dan mengolah anak lembu yang terbaik, serta menyiapkan dadih dan susu. Abraham memberikan penyambutan dengan sungguh-sungguh. Ia menjamu ketiga orang asing itu dengan memberikan yang terbaik dari apa yang ia miliki.
Sahabat Senior, marilah kita belajar memberi yang terbaik sesuai dengan kemampuan kita, seperti yang diteladankan Abraham. Bukan memberi secara ala kadarnya atau asal-asalan, seperti para penyumbang pakaian bekas tersebut. Marilah kita belajar memberi dengan ketulusan, sehingga mereka yang menerima dapat merasakannya sebagai pemberian dari Tuhan.
DOA:
Ya Allah, tolonglah kami untuk memberi yang baik bagi sesama kami, khususnya mereka yang sungguh membutuhkan. Ajar kami untuk tulus dalam memberi. Amin.
