Tony Stark alias Iron Man dikenal cerdas, keren, kadang sombong, serta ambisius. Namun, di akhir film Avengers: Endgame, Tony melakukan hal yang tak pernah diduga siapa pun. Di tengah kekacauan perang melawan Thanos, Tony mengorbankan dirinya sampai mati demi menyelamatkan dunia. Adegan ini memberi pesan yang mendalam, “Pengorbanan sejati datang bukan dari orang yang sempurna, tetapi dari hati yang mau memberi demi kepentingan yang lebih luas.”
Saudara-saudara Yusuf sedang panik. Mereka sedih dan bingung karena Benyamin dituduh mencuri piala milik Yusuf. Hukumannya jelas: Benyamin harus menjadi budak di Mesir. Padahal, mereka sudah berjanji kepada Yakub untuk menjaga Benyamin dan membawanya pulang dengan selamat. Jika gagal, hati ayah mereka pasti hancur, bahkan mungkin tak ingin hidup lagi. Dalam situasi itu, Yehuda mengambil keputusan besar. Ia menawarkan diri untuk menggantikan Benyamin sebagai budak. Lewat tindakannya, Yehuda menunjukkan bahwa ia tak lagi mementingkan diri sendiri. Ia sadar bahwa dirinya adalah bagian dari keluarga Yakub. Oleh karena itu, ia merasa kepentingan keluarga merupakan hal yang perlu diperjuangkan demi kebaikan bersama.
Teens, situasi yang sebaliknya justru sering kita temukan pada zaman sekarang. Tidak sedikit anggota keluarga yang justru bertengkar karena memiliki tuntutan masing-masing. Semua ingin merasa didengar dan diutamakan. Akibatnya, semangat rela berkorban di dalam keluarga mulai terkikis. Melalui firman hari ini, kita diingatkan untuk memiliki kerelaan berkorban, khususnya di dalam keluarga. Mulailah dari hal kecil, seperti rela tidak bermain game atau mengurangi kesenangan lainnya demi berkumpul bersama keluarga. Di situlah kita sedang belajar untuk mengorbankan hati, pikiran, dan seluruh hidup.
