Nita dipanggil oleh guru BK karena mendapat laporan bahwa ia sering berkata kasar kepada teman-temannya. Ia kaget mendapat teguran itu. Selama ini, ia tidak menyangka bahwa kata-katanya dianggap kasar dan tidak sopan. Pasalnya, papa dan mamanya di rumah terbiasa berkata-kata seperti itu. Sindiran dan ungkapan yang meremehkan juga merupakan hal yang biasa dalam lingkungan keluarganya. Namun, ternyata cara berkomunikasi Nita menyakiti perasaan teman-temannya. Ketika direfleksikan, Nita juga ternyata punya rasa percaya diri yang rendah dan sering menyembunyikan rasa rendah dirinya di balik kata-kata kasarnya. Meski demikian, guru BK meminta Nita untuk tetap menghormati orang tuanya. Bagaimanapun, mereka adalah orang tua yang mengasihi Nita. Yang perlu Nita lakukan adalah belajar menyesuaikan diri dengan budaya sopan santun di sekolah dan menularkannya kepada keluarganya di rumah.
Harus diakui, tidak ada orang tua yang sempurna. Yonatan juga menghadapi orang tua toxic yang terang-terangan ingin membunuh sahabatnya. Saul, ayah Yonatan, bahkan memakinya dengan ungkapan yang sangat kasar karena mengetahui bahwa Yonatan melindungi Daud. Namun, Yonatan tidak membalas ayahnya. Meski Yonatan bersusah hati, ia tidak melawan dan justru menjaga ayahnya dari dosa karena ingin membunuh Daud.
Teens, sikap Yonatan perlu kita teladani. Kita memang tidak dapat memilih siapa orang tua kita, dan ada kalanya orang tua kita menunjukkan sikap yang kurang sehat dalam berelasi, alias toxic. Namun, kita tetap perlu menanggapi mereka dengan sopan dan hormat serta menolong mereka untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Lagi pula, bukankah mereka telah menyekolahkanmu? Tidak ada salahnya berbagi ilmu tentang relasi yang sehat dengan mereka, bukan?
