Jamieson, Fausset, dan Brown, para teolog abad ke-19, mengajukan pemikiran bahwa bahkan pada saat kemerosotan agama yang meluas, “lampu Allah tidak pernah padam” karena masih ada “sisa” yang setia. Hal ini murni karena anugerah Tuhan. Tesis ini didasarkan pada argumentasi teologis tentang primasi anugerah (the primacy of grace), yaitu bahwa “sisa” ada karena inisiatif dan pemeliharaan Allah, bukan karena kualitas moral kelompok minoritas. Melalui pemikiran ini, kita dapat memahami Roma 11:1–2 secara lebih mendalam.
Teks Alkitab hari ini merupakan upaya Paulus untuk menjawab pertanyaan penting: “Jika Israel adalah umat pilihan Allah dan mereka telah menolak iman kepada Kristus sebagai jalan keselamatan, apa yang akan terjadi pada mereka? Apakah itu berarti Allah telah menolak Israel?” Jawabannya adalah “tidak”. Lagi pula, Paulus sendiri adalah orang Israel yang telah beriman kepada Kristus dan diselamatkan, yang menunjukkan bahwa hal ini mungkin bagi semua orang Israel. Paulus merujuk pada sebagian kecil orang Yahudi yang telah berpaling kepada Kristus sebagai suatu “sisa”, dan membandingkan mereka dengan sisa orang Israel yang tidak menyembah Baal pada zaman Elia. Oleh kasih karunia-Nya, Allah telah memisahkan sisa orang Kristen Yahudi ini sebagai Israel sejati. Hal ini merupakan inisiatif sekaligus pemeliharaan Allah.
Youth, meskipun banyak orang menolak Tuhan, Allah tetap setia. Selalu ada “sisa” yang tetap taat karena kasih karunia-Nya. Kita dipanggil menjadi bagian dari “sisa” itu dipanggil untuk tetap setia di tengah arus penolakan. Bukan karena kita kuat, melainkan karena Allah memelihara kita.
- Bagaimana respons Paulus berkaitan dengan keberadaan ”sisa” Israel?
- Apakah kamu sedang hidup sebagai bagian dari “sisa” yang setia itu?
Pokok Doa: Kesungguhan untuk hidup dalam jalan anugerah.
