Seorang pendeta baru saja ketinggalan kereta, padahal ia harus segera tiba untuk memimpin ibadah. Ia pun naik kereta berikutnya. Di perjalanan, ia duduk di sebelah seorang bapak yang baru kehilangan istrinya. Sepanjang perjalanan, pendeta itu mendengarkan cerita bapak tersebut, menguatkannya, dan berdoa bersamanya. Saat tiba di tujuan, bapak itu berkata, “Kalau Pendeta tidak duduk di sini, saya tidak tahu bagaimana saya bisa bertahan.” Saat itu pendeta itu menyadari, ternyata keterlambatannya bukanlah kebetulan, melainkan cara Tuhan mempertemukannya dengan seseorang yang membutuhkan penghiburan.
Bukan satu kebetulan Yusuf dipenjara di tempat di mana kepala juru minuman dan kepala juru roti kerajaan ikut dipenjara. Saat itu, mereka semua tidak mengerti mengapa harus ditahan di penjara. Namun, kita yang sudah membaca kisah ini dengan lengkap mengetahui kalau peristiwa ini adalah bagian dari rencana Tuhan. Kepala juru minuman itulah yang nantinya memperkenalkan Yusuf kepada Firaun. Menariknya, tanpa tahu masa depannya, Yusuf tetap melayani dan berbuat baik. Ia tidak tahu bahwa di dalam penjara ia akan berjumpa dengan orang yang akan menolongnya. Yusuf hanya memilih untuk tetap memiliki hati yang tulus dan menolong siapa pun yang ia temui, di mana pun ia berada.
Teens, kita juga sering bertemu orang baru atau mengalami peristiwa yang tidak kita pahami. Dari Yusuf, kita belajar satu hal penting: tetaplah berbuat baik dan tulus di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun. Kita tidak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan melalui setiap peristiwa dan pertemuan. Bisa jadi, semuanya sudah Tuhan siapkan sebagai bagian dari jawaban atas pergumulan kita. Percayalah, di hadapan Tuhan, tidak ada yang kebetulan. Semua ada dalam rencana-Nya.
