Corrie ten Boom dikenal sebagai penulis rohani yang banyak berbicara tentang pengampunan. Ia terinspirasi dari pengalaman hidupnya saat Perang Dunia II. Corrie dan keluarganya ditangkap oleh tentara Nazi. Ayah dan saudaranya meninggal di dalam penjara. Setelah perang berakhir, Corrie berkeliling dunia untuk berkhotbah tentang damai dan pengampunan. Suatu hari, saat ia berkhotbah di Jerman, hadir mantan penjaga penjara yang dulu menyiksa adiknya hingga tewas. Corrie terkejut dan hatinya gemetar. Ia sempat tidak sanggup bersalaman dengan orang itu. Ia sadar, pengampunan tidak bisa terjadi seketika. Butuh waktu dan proses untuk benar-benar memaafkan. Setelah ia berdoa dan berani mencobanya, Corrie merasakan kelegaan dan sukacita.
Yusuf dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan TUHAN. Ia pun sudah menjadi orang terhormat di Mesir. Ketika Yusuf berjumpa kembali dengan kakak-kakaknya, hatinya tetap bergejolak. Padahal peristiwa kelam bersama kakak-kakaknya sudah berlalu belasan tahun. Alkitab mencatat bahwa Yusuf berbicara ketus kepada mereka (ayat 7). Yusuf belum bisa menahan emosinya. Di satu sisi, ia tahu pentingnya kasih dan pengampunan. Di sisi lain, hatinya masih terluka. Dalam keadaan seperti itu, Yusuf memilih menjauh dan menangis sendirian (ayat 24). Ia tahu apa yang benar, tetapi juga sadar akan kelemahannya. Yusuf belajar bahwa pengampunan butuh waktu sekaligus kejujuran hati.
Teens, mengampuni itu memang sulit. Karena itu, wajar jika manusia tidak sanggup melakukannya dengan instan. Ini bukan berarti pengampunan tidak mungkin dilakukan. Di sinilah peran iman. Iman tidak membuat kita bisa mengampuni secara instan, melainkan menolong kita untuk memproses pengampunan, hingga kita dapat merasakan pemulihan yang sejati.
