Tindakan flexing di media sosial merupakan fenomena yang menunjukkan bahwa kebutuhan akan validasi dan pengakuan menjadi sesuatu yang dikejar. Dalam upaya ini, banyak orang tidak segan merendahkan pihak lain agar terlihat lebih unggul. Mereka lupa bahwa pengakuan atau “like” dari Tuhan jauh lebih utama daripada manusia.
Para rasul palsu menantang peran Rasul Paulus sebagai rasul sejati. Mereka mengatakan Paulus hanya berani saat menulis surat, tetapi kurang percaya diri ketika bertatap muka. Bagi mereka, seorang rasul sejati seharusnya lebih mengesankan secara pribadi. Rupanya, para rasul palsu yang bersaing untuk mendapatkan hati dan pikiran jemaat Korintus adalah pembicara yang ulung dan berpengaruh. Paulus memilih untuk tidak turut dalam kompetisi demi popularitas. Tujuannya adalah memimpin orang lain kepada iman kepada Tuhan, bukan untuk dikagumi manusia. Ia menolak membandingkan diri dengan orang lain atau menyombongkan keterampilannya. Paulus tidak perlu berkompetisi. Ia menolak ikut serta dalam permainan jual-beli kesombongan dengan mereka yang menantangnya. Sebaliknya, ia bermegah di dalam Tuhan.
Youth, berhati-hatilah dengan mentalitas kompetisi rohani: sibuk mencari validasi lalu merendahkan orang lain. Setiap orang memiliki area yang Tuhan tetapkan dan ukuran keberhasilan yang sejati adalah kesetiaan, bukan popularitas atau pengakuan manusia. Jangan sampai karena ingin mendapatkan tombol “like” manusia, kita melupakan Tuhan. Bermegah di dalam Tuhan jauh lebih mulia.
- Apa saja tuduhan yang ditujukan kepada Rasul Paulus dari para rasul palsu?
- Apa upayamu agar tidak terjebak untuk menjatuhkan pihak lain?
Pokok Doa: Hati yang bersih dari sikap iri dan dengki.
