Mengasihi orang yang baik, bersikap ramah, atau sepemikiran dengan kita memang mudah. Manusia cenderung menerima dan mengasihi orang-orang yang memiliki sifat baik. Namun, mengasihi orang yang telah menyakiti, mengecewakan, atau memiliki sikap dan pemikiran yang berbeda merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, apakah mungkin tetap mengasihi ketika perbedaan begitu jelas?
Penulis Surat Yohanes mengingatkan kembali tentang perintah yang telah mereka terima sejak semula, yaitu saling mengasihi (ayat 5–6). Meski demikian, penulis Surat Yohanes juga membuka keadaan jemaat Tuhan yang sedang terancam oleh kehadiran para penyesat atau antikristus, yaitu orang-orang yang tidak mengakui bahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh datang ke dunia sebagai manusia. Di sinilah tantangan untuk mengasihi muncul. Para penyesat dapat membawa umat menjauh bahkan meninggalkan Tuhan. Karena itu, umat diajak untuk bersikap waspada, yakni mampu melihat, merasakan, dan menghadapi perbedaan ajaran para penyesat. Penulis Surat Yohanes mengingatkan bahwa jemaat perlu menjauhi mereka (ayat 10–11).
Youth, cinta Tuhan mengajarkan kita untuk memberi pengampunan, tetapi tidak menutup mata terhadap kesesatan. Bagi mereka yang menyadari kesalahan dan bertobat, tentu pengampunan diberikan. Namun, bagi mereka yang masih memilih hidup dalam kesesatan, kita perlu melihat mereka dalam belas kasih Allah. Sebab Allah mengasihi orang berdosa, tetapi membenci dosa dan kejahatannya. Dengan demikian, kamu hidup dalam kasih Bapa. Tetaplah mengasihi.
-
- Apa yang dimaksud Surat Yohanes dengan hidup dalam kasih?
- Bagaimana kamu dapat tetap mengasihi orang lain yang berbeda pandangan?
Pokok Doa: Kekuatan dan kesetiaan untuk tetap mengasihi.
