“Sudah berbuat baik, sudah melayani, tetapi kenapa kok saya difitnah seperti ini, Kak?” Begitulah sepenggal kalimat yang disampaikan seorang mentee kepada mentornya. Ia kesal karena pelayanannya tidak dianggap oleh teman- temannya.
Momen ketika Tuhan Yesus marah di bait Allah berlanjut dengan datangnya orang buta dan lumpuh kepada-Nya. Mereka pun disembuhkan. Namun, mukjizat yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang menderita itu tidak sepenuhnya diterima oleh imam kepala dan para ahli Taurat. Keadaan ini semakin menjadi karena orang banyak terus berteriak, “Hosana bagi Anak Daud!” Seruan ini menjadikan Tuhan Yesus sebagai pusat perhatian. Mukjizat dan pujian orang banyak yang memuliakan Tuhan membuat para ahli Taurat marah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka melihat Yesus sebagai saingan yang dapat menghancurkan reputasi mereka. Selama mereka melayani dan setia beribadah, mereka hanya menekankan hukum dan aturan peribadahan. Mereka tidak mampu menjawab kebutuhan orang-orang yang merindukan perubahan dan kesembuhan.
Teens, pengalaman Tuhan Yesus yang tidak selalu diterima biarlah menjadi pembelajaran bagi kita bahwa pelayanan kita pun tidak selalu diterima. Karena itu, tanamkan dalam hatimu bahwa bukan penerimaan atau pujian dari orang lain yang penting, melainkan kesetiaan melakukan hal yang baik dan benar. Jika pelayananmu diterima, bersyukurlah. Jika tidak diterima, tetaplah bersyukur karena yang terpenting adalah kamu telah melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Namun, jika saat ini kamu merasa terlalu lelah oleh penolakan yang terus-menerus, mungkin kamu perlu rehat sejenak dari komunitas itu sambil nge-charge kembali energimu dengan berfokus pada relasimu secara pribadi dengan Tuhan.
