Allah merancang kehidupan melampaui batas-batas pemikiran manusia. Ia dapat memakai kegagalan atau keburukan orang lain untuk memberkati dan menjadi jalan kebaikan bagi kehidupan kita. Bukan karena mereka buruk dan kita baik, melainkan karena Allah berdaulat dan memiliki rencana terbaik bagi semua. Pada titik inilah dibutuhkan sikap rendah hati dan tahu diri.
Paulus berbicara tentang penolakan Israel terhadap Mesias yang mengakibatkan Allah mendatangkan keselamatan bagi bangsa-bangsa lain. Berkat Allah telah datang kepada bangsa-bangsa lain untuk membuat Israel cemburu dan menarik mereka kembali kepada-Nya. Paulus menggunakan ilustrasi tentang pohon zaitun untuk berbicara kepada orang percaya non-Yahudi (bangsa-bangsa lain) yang “dicangkokkan” ke dalam pokok zaitun, sebuah gambaran umat Allah. Cabang asli (Israel yang menolak Kristus) sebagian telah dipatahkan, dan cabang liar (non-Yahudi) dicangkokkan. Paulus hendak mengingatkan mereka untuk tidak sombong atau merendahkan orang Yahudi yang belum percaya. Ia mengajak dan menasihati orang non-Yahudi untuk tidak bermegah dalam cara pikir yang keliru. Ia mengajak mereka untuk tahu diri dan memaknai bahwa keselamatan itu adalah karya Allah melalui kegagalan Israel. Jadi, jangan ngerasa paling oke!
Youth, Allah dapat saja memakai kegagalan orang lain untuk memberkati kita. Itu bukan karena kita lebih hebat, baik, atau layak, melainkan karena kasih karunia Allah. Dengan demikian, kita terus belajar tahu diri bahwa semua ini bukan tentang kita, melainkan tentang Allah yang berkarya di dalam kita.
- Apa harapan Paulus dengan memenangkan orang non-Yahudi bagi Kristus?
- Tantangan apa yang kita hadapi untuk belajar ”tahu diri” di hadapan Tuhan?
Pokok Doa: Tidak bermegah karena anugerah Tuhan.
