Air sangat penting bagi kehidupan. Tanpa air, tidak ada kehidupan. Mengingat begitu pentingnya air, banyak ahli memperkirakan bahwa pada masa mendatang perang tidak lagi memperebutkan tanah atau minyak, melainkan air. Di berbagai daerah, upaya menyediakan air bersih terus dilakukan. Muncul sebuah iklan yang menunjukkan kegembiraan masyarakat ketika mengetahui bahwa air akan mudah mereka dapatkan. Seorang anak bangun tidur dengan gembira dan mengatakan, “Sekarang sumber air su dekat.”
Perjalanan di padang gurun tidaklah mudah. Salah satu kesulitannya adalah tidak adanya persediaan air yang cukup. Jika persediaan air mereka habis, derita pun terasa sangat berat. Ketiadaan air di Mara membuat bangsa Israel bersungut-sungut. Ada air, tetapi rasanya pahit sehingga tidak dapat diminum. Mereka kecewa kepada Musa. Menjawab keluhan itu, Musa melemparkan kayu yang membuat air menjadi manis. Air itu dapat diminum dan menyegarkan. Perjalanan pun dapat dilanjutkan, meskipun suasana masih muram. Mereka khawatir jika persediaan air kembali habis. Setibanya di Elim, mereka dilimpahi TUHAN dengan air dari dua belas mata air.
Sahabat Senior, kisah tentang air ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu hadir di tengah kebutuhan umat-Nya. Yang diminta Tuhan adalah kepercayaan, bukan bersungut-sungut.
DOA:
Karya kasih-Mu, ya Tuhan, tidak pernah berhenti dalam hidup kami. Engkau selalu hadir memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Terima kasih, ya Tuhan, untuk karya baik-Mu. Amin.
