Film Frozen bercerita tentang dua kakak beradik dari Kerajaan Arendelle, Elsa dan Anna. Sebagai ratu, Elsa sering merasa harus menanggung semua beban sendiri. Namun, Anna, sang adik, tidak pernah membiarkan kakaknya berjuang sendirian. Dalam Frozen 2, Anna ikut menempuh perjalanan berbahaya bersama Elsa untuk mencari sumber suara misterius yang memanggilnya. Kisah mereka menunjukkan arti solidaritas yang sesungguhnya. Solidaritas terwujud dalam kehadiran, bukan hanya saat keadaan baik-baik saja, tetapi juga saat orang lain sedang berjuang dan membutuhkan teman.
Solidaritas juga terlihat dalam kisah anak-anak Yakub pada bacaan hari ini. Saat itu, Benyamin terjebak masalah besar. Di dalam karungnya ditemukan piala milik Yusuf yang sebelumnya hilang dan dicuri. Oleh karena itu, Yusuf memerintahkan agar Benyamin tinggal di Mesir sebagai budak, sementara saudara-saudaranya boleh pulang. Namun, mereka tidak tega meninggalkan Benyamin sendirian. Mereka mengoyakkan jubah mereka sebagai tanda duka dan memutuskan untuk ikut kembali ke Mesir. Mereka bisa saja memilih jalan mudah dan menyelamatkan diri, tetapi mereka tidak melakukannya. Kali ini mereka berbeda dari masa lalu ketika menjual Yusuf. Pertobatan telah mengubah hati mereka. Mereka belajar hidup dalam solidaritas, mau menanggung suka dan duka bersama.
Teens, kita juga dipanggil untuk hidup dalam solidaritas, baik dalam keluarga maupun pertemanan. Pada dasarnya, tidak ada manusia yang bisa hidup sendirian. Karena itu, kehadiran kita sebagai saudara atau teman, baik di saat senang maupun susah, dapat menjadi kekuatan besar bagi seseorang. Solidaritas bukan soal kemampuan menyelesaikan semua masalah orang lain, melainkan kesediaan untuk tetap hadir. Inilah cara sederhana untuk menghadirkan kasih Allah bagi sesama.
