Waktu masih kecil, kamu mungkin pernah berkelahi dengan adikmu karena berebut mainan. Lalu, orangtuamu memintamu memberikan mainan itu kepada adikmu, padahal itu milikmu. Rasanya sedih sekali, ya, ketika harus melepaskan sesuatu yang kita punya dan memberikannya kepada orang lain.
Ada seorang anak muda yang saleh dan taat pada firman Tuhan yang juga pernah mengalaminya. Semua perintah Tuhan telah ia lakukan, tidak ada yang dilanggar. Bisa dibayangkan, ketika banyak orang menggambarkan anak muda suka lupa Tuhan, melanggar perintah-Nya, dan hidup seenaknya, anak muda yang satu ini berbeda. Ia kaya raya dan taat kepada firman Tuhan. Hidup yang tampak sempurna dimilikinya di masa muda. Namun, ia masih merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia kemudian bertemu dengan Tuhan Yesus dan bertanya apa yang harus ia lakukan untuk memperoleh hidup kekal. Jawaban Yesus adalah, “Juallah apa yang kau miliki dan berikanlah kepada orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di surga.” Mendengar hal itu, hatinya langsung sedih karena ia memiliki banyak harta.
Teens, kadang kita diperhadapkan pada situasi harus memilih antara harta atau Tuhan. Harta tidak selalu berarti uang, tetapi bisa juga sesuatu yang kita anggap berharga. Mungkin “harta”-mu adalah game, ponsel, atau prestasi di sekolah. Terkadang semua itu bisa menjadi nomor satu dalam hidupmu, sementara Tuhan menjadi nomor dua. Ketika ada yang mengingatkan supaya kamu tidak menghabiskan waktu dengan game atau ponsel, kamu bisa marah. Saat ujian tiba, demi nilai yang bagus, kamu mungkin rela menyontek dan mengabaikan perintah Tuhan. Teens, mengikut Tuhan berarti mengutamakan Tuhan. Ia harus tetap menjadi yang pertama dalam hidup kita. Jadi, kamu mau memprioritaskan yang mana: Tuhan atau “hartamu”?
