Ketika ada orang dewasa yang emosional dan baperan, sering kali diingatkan, “Kamu jangan seperti anak kecil!” Kalimat ini dimaksudkan untuk menunjukkan sifat kekanak-kanakan yang seharusnya tidak ada lagi dalam diri seseorang yang sudah dewasa. Namun, di sisi lain, ketika ada dua orang bermusuhan lalu diminta berdamai, sering kali diingatkan agar belajar “seperti anak kecil” — yang jika berselisih, cepat untuk berdamai.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada orang banyak tentang menjadi seperti anak kecil: bertobat, merendahkan diri, dan menyambut Tuhan seperti anak kecil. Yang dimaksud bukanlah menjadi kekanak-kanakan, melainkan belajar memiliki hati seperti anak kecil yang mudah mengampuni dan memiliki ketulusan hati. Ajaran ini bermula dari para murid yang ingin mengetahui siapa di antara mereka yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Keinginan untuk menjadi nomor satu, selalu diutamakan, dibanggakan, dan dianggap paling besar memang wajar sebagai manusia yang sedang berproses dan berjuang dalam kehidupan. Namun, jika tidak dikendalikan, bahkan urusan sorga pun — yang bukan wilayah kita — ingin kita atur. Oleh karena itu, para murid diajarkan untuk menjadi seperti anak kecil: yang tidak memiliki jiwa bersaing, yang melihat sesama sebagai teman, bukan sebagai orang yang harus dikalahkan.
Teens, meskipun kamu sudah remaja atau beranjak dewasa, ada nilai hidup dari seorang anak kecil yang perlu tetap kamu rawat, yaitu kesetiakawanan, ketulusan, dan kerendahan hati. Kamu tetap boleh bersaing, mengikuti lomba, atau mengejar cita-cita. Namun, lakukanlah semua itu dengan cara yang benar— tidak perlu merendahkan atau menjatuhkan orang lain. Sebab, kemenangan yang sesungguhnya kita raih adalah ketika mampu mengalahkan sifat buruk dalam diri sendiri.
