Dalam pergaulan, banyak orang berkata, “Ikuti kata hatimu saja,” atau “Lakukan apa yang membuatmu bahagia.” Masalahnya, hati kita sering bingung, apalagi ketika menyangkut soal seksualitas dan komitmen. Kamu mungkin mulai berpikir tentang cinta, pacaran, bahkan hal-hal yang berhubungan dengan seks. Itu adalah hal yang wajar. Tuhan menciptakan perasaan itu. Namun, Ia juga memberikan rambu-rambu supaya kamu tidak tersesat. Komitmen menjaga kekudusan bukan sekadar soal aturan, melainkan wujud kasih kepada Tuhan, kasih kepada diri sendiri, dan kasih kepada orang lain.
Terhadap pertanyaan orang Farisi mengenai perceraian, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa sejak semula, ketika manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan, Allah telah merancang seksualitas dalam sebuah ikatan pernikahan. Laki-laki akan meninggalkan keluarganya dan bersatu dengan pasangannya dalam sebuah ikatan komitmen yang serius. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Kalau pun pada zaman Musa diberikan surat cerai, Tuhan Yesus mengatakan hal itu terjadi karena kekerasan hati manusia. Artinya, ketika seksualitas dijalankan di luar komitmen pernikahan, hal itu termasuk perbuatan zina.
Teens, seksualitas dan komitmen adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Seksualitas Tuhan ciptakan bukan untuk kesenangan pribadi tanpa tanggung jawab. Allah menciptakan seks untuk tujuan yang baik. Jadi, jangan pernah melakukan perilaku seksual sebelum waktunya. Hal itu akan berdampak buruk bagimu dan bagi masa depanmu. Gunakan waktumu untuk menata hidup dan mencapai cita- citamu dengan baik. Hati-hati, jangan jatuh dalam dosa seksual, sebab hal itu akan memperburuk keadaanmu.
