Betapa sakitnya hati ini ketika mendapati fakta bahwa kekasih yang diharapkan setia ternyata berselingkuh. Ekspresi kekecewaan dan sakit hati tersebut diungkapkan dengan kalimat, “Tetapi mimpi apa aku semalam? Kulihat engkau duduk berdua. Bercanda mesra dengan seorang pria. Kau cubit, kau peluk, kau cium.” Itulah sepenggal lirik lagu berjudul “Kugadaikan Cintaku” karya Gombloh.
Bangsa Israel mengalami kasih dan kuasa Allah melalui sepuluh tulah yang ditimpakan kepada bangsa Mesir. Masih segar dalam ingatan mereka peristiwa penyeberangan melintasi Laut Teberau. Bangsa Israel juga baru saja melihat kemuliaan Allah melalui awan yang menutupi Gunung Sinai. Namun, mereka segera melupakan semua itu. Mereka membuat anak lembu emas dan sujud menyembahnya. Hati mereka tidak lagi tertuju kepada Allah. Allah murka terhadap tindakan mereka, tetapi Allah tetap mengasihi mereka.
Sahabat Senior, relasi antara Allah dan kita sebagai umat-Nya digambarkan seperti relasi sepasang kekasih. Allah, Sang Kekasih Sejati, lebih dahulu dan senantiasa mengasihi kita. Karena itu, kita perlu merespons kasih Allah itu dengan mengasihi-Nya. Kasih kita kepada Allah perlu diwujudnyatakan dengan kesetiaan dalam menyembah Dia apa pun yang terjadi, serta kesetiaan untuk menaati firman-Nya kapan pun dan di mana pun kita berada.
DOA:
Ya Allah, kasih-Mu kepada kami tiada berhenti. Mampukanlah kami untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati. Amin.
