Saat seseorang mengalami kesedihan mendalam atau tekanan berat, tubuh meningkatkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Pada sebagian orang, respons ini menekan hormon ghrelin (hormon lapar), sehingga nafsu makan turun drastis. Penelitian pencitraan otak menunjukkan bahwa area otak yang aktif saat patah hati atau ditolak secara sosial hampir sama dengan area saat mengalami rasa sakit fisik. Karena tubuh merasa “terancam”, sistem pencernaan ikut melambat sehingga orang yang sedih sering merasa mual atau tidak punya selera makan.
Dalam Mazmur 102:1–17, pemazmur menggambarkan penderitaannya yang sangat kompleks: fisik, emosional, sosial, dan spiritual. Tubuhnya lemah dan sakit; tulangnya terasa membara, hatinya layu, selera makan hilang. Penderitaan batin menggerogoti fisiknya hingga kurus dan tak berdaya. Malam dilalui tanpa tidur, gelisah, dan sendiri. Ia merasa hidupnya rapuh seperti asap, terasing seperti burung di padang gurun. Ia dicela musuh dan direndahkan. Bahkan, ia merasa TUHAN menyembunyikan wajah-Nya. Oleh karena kesengsaraannya yang teramat dalam itulah, ia berkeluh kesah kepada TUHAN. Ia percaya TUHAN sanggup memulihkannya.
Youth, jika kamu merasakan kesedihan yang membuat tubuhmu lemah dan kehilangan selera makan, jangan biarkan hal itu membuatmu berhenti merawat diri sehingga kamu lebih menderita. Seperti pemazmur, dalam penderitaan atau kesedihan yang mendalam, datanglah kepada Tuhan dengan jujur. Mintalah Dia memulihkan hatimu yang terluka, percayalah Dia akan bekerja dengan cara-Nya. Bagianmu adalah tetap menjaga tubuh yang telah dipercayakan-Nya.
- Bagaimana pemazmur menggambarkan penderitaan yang dirasakannya?
- Bagaimana caramu berkeluh kesah kepada Tuhan di saat sedih?
Pokok Doa: Mohon Tuhan memulihkan setiap hati yang bersedih.
