Dalam buku berjudul Handbook of Emotion Regulation karya James J. Gross (2007) dijelaskan bahwa regulasi emosi melibatkan jaringan otak yang dipimpin oleh prefrontal cortex yang mengontrol respons emosional. Saat kita mengalami kebingungan atau malu, area prefrontal cortex bekerja ekstra keras, sehingga kata-kata menjadi sulit keluar. Itulah sebabnya mengapa kita sering menyaksikan banyak orang yang merasa bingung dan tidak mampu saat diminta untuk berdoa di depan umum. Saat mengalami pergumulan, sering kali seseorang juga mengalami kesulitan untuk menyampaikan doa pribadi kepada Tuhan.
Rasul Paulus tidak menyangkal bahwa manusia memiliki keterbatasan, termasuk dalam berdoa. Sering kali kita tidak tahu harus berdoa apa atau bagaimana menyampaikan pergumulan terdalam kepada Allah. Di sinilah peran Roh Kudus: menolong kita dengan “menerjemahkan” keluhan, keresahan, dan doa yang tak terucapkan agar sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini menunjukkan keintiman Allah dengan orang percaya, yaitu dalam kelemahan kita, Allah memahami dan merespons hati kita melalui Roh-Nya.
Youth, saat menghadapi pergumulan, sering kali kita merasa bingung harus berdoa apa. Ingin berkeluh kesah, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa. Jangan biarkan kesulitan itu menghentikan komunikasi kita dengan Tuhan. Justru dalam kelemahan dan kebingungan itulah Allah hadir melalui Roh Kudus. Biarkan Dia menolong kita menyampaikan isi hati yang terdalam. Percayalah, setiap pergumulan yang kita serahkan—meski hanya lewat doa sederhana dan hening—diperhatikan dan dimengerti oleh-Nya.
- Bagaimana cara Roh bekerja di saat kita tidak mampu berdoa?
- Pernahkah kamu merasa kesulitan untuk berdoa, bagaimana hal itu teratasi?
Pokok Doa: Mohon pimpinan Roh Kudus dalam setiap doa yang diucapkan.
