Laras gagal dalam wawancara kerja untuk keempat kalinya. Saat teman-temannya sibuk mengunggah pencapaian di media sosial, ia merasa tertinggal. Namun, alih-alih larut dalam kekecewaan, ia mulai menuliskan tiga hal yang ia syukuri setiap hari: bisa bangun pagi dengan sehat, menikmati kopi, serta mengobrol dengan Mama. Meski belum mendapatkan pekerjaan, ia merasa lebih tenang dan dekat dengan Tuhan. Bukan karena hidupnya sempurna, melainkan karena hatinya belajar melihat kebaikan Tuhan di tengah kesulitan. Itulah yang membuat Laras mampu bersyukur.
Rasa syukur bukan sekadar toxic positivity atau upaya memaksa diri untuk merasa senang saat berada dalam kesusahan. Mazmur 100 memberikan dasar syukur, yaitu pengenalan yang benar tentang TUHAN: Pencipta dan Gembala yang memelihara. Dalam bahasa Ibrani, kata “ketahuilah” (ּועְדְי – yedəʿū) mengandung makna pengakuan yang mendalam dan relasional, bukan sekadar pengetahuan informatif. Ini bukan tahu karena membaca, melainkan tahu karena mengenal. Pemazmur memahami bahwa ia adalah milik Allah yang dijaga dan dipelihara oleh-Nya. Rasa aman dan syukur tidak lagi bergantung pada kondisi eksternal, melainkan pada identitas rohani yang kokoh.
Youth, bersyukur berarti mengakui siapa Tuhan, siapa kita di dalam Dia, serta membiarkan realitas rohani itu mengubah cara kita memandang dunia. Rasa syukur mengubah perspektif karena mengalihkan fokus dari masalah kepada Sang Pemelihara yang mengasihi kita. Ketika hati bersyukur, kita menjalani hidup bukan dengan beban, melainkan dengan harapan.
- Apa dasar dari rasa syukur menurut pemazmur?
- Apakah rasa syukur telah mengubah perspektifmu?
Pokok Doa: Belajar bersyukur untuk setiap hal kecil dan sederhana.
