Dalam dunia medis ada kondisi yang disebut anosognosia—seseorang tidak sadar bahwa dirinya sakit, bahkan ketika gejalanya jelas terlihat. Ia merasa baik-baik saja, padahal penyakitnya begitu serius. Orang dengan anosognosia bisa tidak menyadari kelumpuhan di tubuhnya karena otaknya “memblokir” realitas. Ironisnya, ketidaksadaran dan penyangkalan itulah yang paling berbahaya, bahkan menyebabkan kematian.
Dalam Injil Yohanes 8:21–30, Yesus menegaskan asal ilahi-Nya dan memperingatkan bahaya mati dalam dosa karena ketidakpercayaan. Hal itu dikatakan-Nya untuk merespons orang-orang yang tidak mengenal siapa Dia dan tidak percaya kepada-Nya. Kalimat “meninggikan Anak Manusia” bisa diartikan sebagai salib yang menjadi penyingkapan identitas-Nya sebagai Anak yang taat kepada Bapa. Pernyataan “Akulah Dia” menegaskan diri-Nya sebagai Pribadi yang datang dari atas, yang satu dengan Bapa, yang memegang otoritas atas hidup dan keselamatan. Respons manusia menentukan: menolak Yesus berujung kebinasaan, percaya membawa kehidupan.
Youth, secara rohani, kita juga bisa mengalami anosognosia: hidup dalam penyangkalan akan Yesus. Dalam berbagai situasi, kadang kita masih tidak sepenuhnya percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah. Kita merasa aman dan benar, tetapi sebenarnya sedang menuju kehancuran karenanya. Waspadalah, karena ketidakpercayaan yang tersembunyi sekalipun bisa merenggut kehidupan rohani kita. Percayalah sepenuhnya kepada Yesus. Biarkan kasih dan kuasa-Nya membimbing kita, maka kita akan memperoleh kehidupan.
- Apa yang dimaksud Yesus dengan kalimat ”Akulah Dia”?
- Apakah masih ada keraguan tentang siapa Yesus dalam hidupmu?
Pokok Doa: Hidup dengan kepercayaan penuh kepada Yesus Sang Anak Allah.
