Anak-anak secara alami menjadi peniru orang dewasa di sekitarnya. Tidak hanya meniru kata-kata, tetapi juga cara merespons situasi, pola pikir, dan perilaku. Pola meniru ini semakin kuat karena hubungan yang intens dan dekat, di mana anak merasa aman dan nyaman untuk memerhatikan dan mencontoh perilaku orang yang mereka percayai. Demikian juga dengan keteladanan.
Rasul Paulus memberi nasihat tentang bagaimana orang percaya hidup dalam kasih dan ketaatan kepada Allah. Ia mengajak kita untuk meneladani Allah dan menjadi anak-anak yang dikasihi. Nasihat “teladanilah Allah” merupakan sebuah keharusan. Paulus memerintahkan jemaat mengikuti Allah untuk meneladani-Nya, yaitu melakukan seperti yang Dia lakukan. Paulus juga menjelaskan pola pikir yang seharusnya memotivasi orang Kristen menuju ketaatan. Orang percaya di dalam Kristus menikmati hubungan Bapa dan anak dengan Allah. Seorang anak secara alami berusaha meniru apa yang ia lihat dalam diri seorang ayah yang penuh kasih. Orang percaya di dalam Yesus juga harus meniru apa yang mereka pelajari tentang Allah.
Youth, kita hidup bukan sekadar ikut arus dunia, tetapi meneladani Allah dalam tindakan. Kasih menjadi dasar setiap tindakan dan ketaatan menjadi bukti nyata dari iman kita. Bentuk nyata dalam hidup meneladani Allah adalah dengan menjauhi perilaku yang berdosa seperti keserakahan, percabulan, hingga ucapan yang kotor. Semua itu bertentangan dengan kehidupan baru dalam Kristus. Hidup yang meneladani Tuhan berarti menghidupi standar-Nya, bukan standar dunia. Kita adalah peniru-peniru Allah.
- Bagaimana gambaran Paulus tentang hidup sebagai anak Allah?
- Apa saja kesulitan yang kamu hadapi untuk hidup sebagai anak Allah?
Pokok Doa: Setia untuk hidup sebagai anak Allah.
