Perbedaan dapat dilihat sebagai keragaman yang memperkaya kebersamaan, tetapi dapat juga dipandang sebagai tembok yang memisahkan. Perbedaan suku, ras, dan bahasa menunjukkan beragamnya budaya di Indonesia. Namun, di sisi lain, kecenderungan untuk berkelompok hanya dengan mereka yang satu suku, ras, atau bahasa dapat menimbulkan kelompok-kelompok eksklusif. Belum lagi perbedaan pendapat, latar belakang sosial, pendidikan, dan ekonomi yang, ketika tidak dikelola dengan bijak, dapat menimbulkan persaingan dan iri hati. Perbedaan pun menjadi tembok yang memisahkan.
Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus berhadapan dengan situasi jemaat yang memiliki berbagai perbedaan. Ada orang-orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi (bangsa lain). Paulus mengatakan bahwa orang-orang bukan Yahudi sebelumnya tidak menjadi bagian dari janji Allah, jauh dari Allah, dan terpisah dari Kristus. Namun, karena Kristus telah mati di kayu salib untuk menebus manusia, orang-orang non- Yahudi didekatkan kepada Allah. Pengurbanan Yesus telah mendatangkan pendamaian dan menghancurkan tembok pemisah antara orang Yahudi dan non-Yahudi, sehingga semua orang, kini memiliki akses kepada Bapa.
Youth, dalam Kristus semua penghalang antara manusia dan Allah, serta antarsesama manusia, telah dirobohkan. Semua orang berada dalam naungan kasih Bapa. Kamu pun diajak untuk mengelola perbedaan yang ada. Hiduplah dalam kasih, damai, dan penerimaan terhadap mereka yang berbeda. Sebagaimana Kristus telah berkorban, lakukanlah pengorbanan-pengorbanan yang perlu demi hidup dalam kesatuan.
-
- Bagaimana cara Kristus merobohkan tembok pemisah di antara umat-Nya?
- Adakah tembok pemisah yang belum dirobohkan dalam hidupmu?
Pokok Doa: Menjadi pembawa kasih, damai, dan kesatuan.
