Ada sebuah tradisi Romawi kuno yang disebut tollere liberum, yang berarti “mengangkat bayi”. Ketika seorang bayi budak yang baru lahir dibawa ke rumah majikan, kepala keluarga bisa memilih untuk mengangkat bayi dari lantai, yang merupakan simbol penerimaan bayi itu ke dalam keluarga. Budak atau anak yang diakui lewat tollere liberum memiliki relasi yang lebih akrab serta mendapatkan perhatian, perlindungan, dan kesempatan lebih baik sesuai derajat keluarga itu.
Senada dengan hal tersebut, Allah pun “mengangkat” kita sebagai anak-Nya. Rasul Paulus menegaskan bahwa semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah. Kata “dipimpin” (Yunani: agontai) menunjukkan tindakan berkelanjutan. Artinya, hidup orang percaya terus-menerus diarahkan oleh Roh Kudus, bukan oleh keinginan daging. Jika sebelumnya menjadi budak dosa, kini menjadi anak Allah yang dikasihi. “Abba” adalah sapaan dalam bahasa Aram yang intim seperti “Papa”. Ini menunjukkan relasi yang akrab, bukan relasi yang penuh ketakutan. Orang percaya tidak lagi hidup dalam kecemasan akan hukuman, melainkan dalam keintiman sebagai anak Allah.
Youth, seperti budak terhadap majikan, relasi yang didasari ketakutan menghasilkan kepatuhan terpaksa, sedangkan relasi sebagai anak menghasilkan ketaatan yang lahir dari kasih dan kepercayaan. Hari ini kita diingatkan akan identitas kita sebagai anak Allah. Layaknya anak, mari terus menghidupi relasi yang akrab, dekat, dan intim dengan Allah serta membiarkan diri terus dibimbing dan dituntun oleh Roh-Nya.
- Menurut Paulus, siapa yang bisa disebut sebagai anak Allah?
- Bagaimana kamu merasakan Allah sebagai Bapa yang akrab denganmu?
Pokok Doa: Bersyukur atas relasi yang akrab dengan Allah sebagai Bapa.
