Ada dua ekor kambing bertemu di jalan sempit dari arah berlawanan. Namun, karena sempitnya jalan itu, tidak ada ruang untuk mereka berpapasan. Di satu sisi ada tebing yang tinggi dan di sisi yang lain ada jurang yang dalam. Maju sulit, mundur juga susah. Namun, tiba-tiba salah satu dari kambing merebahkan tubuhnya dan mengembik-embik memberi kode kepada kambing lain untuk lewat di atasnya. Akhirnya, kambing yang lain itu berjalan di atasnya. Walaupun kambing yang merebahkan diri itu merasa sakit karena diinjak, kedua kambing itu selamat sampai tujuan tanpa pertengkaran. Ini karena yang satu mau mengalah untuk yang lain.
Dalam teks Alkitab kita hari ini, Abram yang pada awalnya mengembara dan tinggal bersama Lot, harus berpisah. Ini dikarenakan tempat tinggal mereka di tanah Negeb tidak begitu luas, sehingga terjadi pertengkaran antara para gembala Lot dengan para gembala Abram. Abram ingin menyelesaikan masalah dengan Lot tanpa kekerasan atau perkelahian. Karena itu, Ia menawarkan untuk berpisah dari Lot dan menyuruhnya memilih tanah yang akan dia tinggali. Lot lalu memilih tinggal di kota-kota Lembah Yordan dekat Sodom yang tanahnya subur. Abram pun bersedia mengalah kepada Lot dan menetap di tanah Kanaan. Namun, dari tanah Kanaan itulah, Allah membuat Abram dan keturunannya menjadi sebuah bangsa yang besar.
Teens, dari Abram kita belajar bahwa mengalah tidak berarti kalah. Terkadang kita perlu mengalah, bukan dengan tujuan supaya nanti mendapat kemenangan, melainkan untuk kebaikan bersama. Mengalah artinya tidak mengutamakan kepentingan sendiri dengan mengabaikan orang lain. Mengalah untuk kebaikan bersama adalah proses pendewasaan diri, sebab dengannya kita berlatih untuk memilih jalan yang terbaik demi kebaikan bagi semua orang.
