Setiap sebutan, panggilan, gelar, atau pengakuan yang kita berikan kepada seseorang selalu menuntut konsekuensi. Jika kita menyebut seseorang sebagai kekasih, maka sebutan ini menuntut konsekuensi, yaitu kita harus mengasihinya secara sungguh-sungguh. Ketika kita menyebut seseorang sebagai guru, kita harus mendengarkan ajarannya. Ketika kita menyebut seseorang sebagai atasan, kita harus mengerjakan tugas-tugas yang ia percayakan kepada kita.
Hal yang sama pun berlaku bagi Allah. Pengakuan atau sebutan apa pun yang kita sembahkan kepada Allah menuntut konsekuensi. Teks kita hari ini mengungkapkan bahwa TUHAN adalah Raja. Sebutan ini adalah pengakuan bahwa TUHANlah yang berdaulat atas kehidupan. Sebagai Raja, Dialah yang memerintah dan mengatur segala sesuatu. Setiap keputusan dan tindakan akan kita ambil sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika kita memutuskan untuk menikah dengan seseorang maupun menerima atau menolak panggilan pelayanan atau pekerjaan tertentu, kehendak-Nyalah yang menjadi pertimbangan utama dan menentukan.
Youth, ketika Tuhan sungguh menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan dan tindakan kita, hidup kita akan diarahkan oleh kehendak-Nya, bukan oleh ego, ambisi, atau tekanan lingkungan. Ketika kita taat dan setia kepada-Nya, maka kita akan bersyukur atas segala sesuatu: atas kekasih, kesempatan melayani, studi, dan pekerjaan dengan segala berkat dan tantangan yang menyertainya. Jadi, apakah Tuhan sungguh-sungguh menjadi Raja dalam hidup kita, atau kita masih memerintah diri sendiri?
- Bagaimana pemazmur menggambarkan Tuhan sebagai Raja?
- Bagaimana caramu menempatkan Tuhan sebagai Raja dalam hidupmu?
Pokok Doa: Belajar taat dan menuruti kehendak Tuhan dalam setiap tindakan.
