Dika, Soni, dan Ale sedang mabar. Mereka berada dalam satu tim melawan tim lain. Dalam permainan itu, tim lawan sering kali memaki- maki dan mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh. Dika dan Soni yang mendengar kata- kata umpatan tersebut membalas dengan umpatan dan makian. Setelah menyelesaikan permainan, Ale mengingatkan Dika dan Soni agar tidak terpancing ikut memaki-maki. Setelah mendengar teguran itu, Dika dan Soni sering menolak bermain game bersama Ale lagi. Sebaliknya, mereka lebih sering bermain berdua tanpa mengajak Ale. Mereka tidak suka ditegur oleh Ale.
Allah telah membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir (ayat 6–8). Sebagai bangsa yang dimerdekakan, Allah mengajar mereka untuk hidup dalam peringatan dan hukum TUHAN. Jalan hidup yang TUHAN perkenalkan kepada umat-Nya adalah jalan hidup kekudusan yang membawa pada kemenangan, keteraturan, dan damai sejahtera (ayat 15–17). Namun, umat Israel menolak mendengarkan suara TUHAN karena suara TUHAN berbeda dengan keinginan hati mereka (ayat 13). Umat Israel hanya mendengarkan suara yang ingin mereka dengar, bukan suara yang perlu mereka dengar. Mereka menolak suara yang berbeda, yaitu suara yang menyuarakan kebenaran.
Youth, diperlukan kerendahan hati untuk mendengar suara yang berbeda dari keinginan hati kita. Teguran adalah suara yang menyatakan kebenaran untuk mengingatkan ketika seseorang jatuh dalam dosa. Sesungguhnya, tidak ada yang lebih berbelas kasih daripada teguran yang memanggil kembali orang Kristen keluar dari jalan dosanya.
-
- Mengapa umat Israel tidak mau mendengarkan suara Tuhan?
- Seberapa terbuka kamu untuk menerima masukan yang menyakitkan?
Pokok Doa: Hati yang lembut untuk mendengar teguran dan peringatan Tuhan.
