Korupsi sangat merusak tatanan kehidupan manusia. Korupsi dana kesehatan membuat orang-orang yang sakit tidak mendapatkan penanganan yang semestinya. Korupsi di dunia pendidikan mengorbankan mutu pendidikan serta hak guru maupun murid. Korupsi dalam proyek pembangunan fasilitas umum, seperti jalan, jembatan, atau gedung, menghasilkan fasilitas yang bermutu rendah. Penyalahgunaan wewenang demi kepentingan diri sendiri telah merusak masyarakat. Pejabat dapat disogok. Penegak keadilan dapat disuap. Ketika masa pemilihan umum tiba, rakyat kecil pun menunggu sogokan uang dari para calon yang meminta dipilih.
“Percabulan, rupa-rupa kecemaran, dan keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu,” nasihat Paulus kepada jemaat di Efesus. Maksud nasihat ini bukan berarti ketika hal-hal tersebut terjadi lalu didiamkan, diabaikan, atau pura-pura tidak melihat. Sebagai anak- anak terang yang hidup dalam terang Kristus, seharusnya jemaat telah meninggalkan cara hidup dalam kegelapan sehingga mereka malu melakukan hal-hal yang cemar, cabul, kotor dalam perkataan, maupun bersikap serakah. Jika mengucapkannya saja sudah merupakan hal yang memalukan, seharusnya hal-hal itu tidak lagi dilakukan.
Youth, korupsi telah menjadi persoalan sistemik di negeri kita. Namun, persoalan sistemik ini sebenarnya juga berakar dari persoalan karakter, yaitu sikap serakah. Kamu dapat melawan tindakan korupsi dengan hidup jujur, berintegritas, mengucap syukur, mencukupkan diri dengan apa yang ada, dan tidak iri hati terhadap pencapaian orang lain.
-
- Mengapa Paulus melarang umat menyebut percabulan, kecemaran, dan keserakahan?
- Apa yang bisa kamu lakukan untuk melawan perbuatan korupsi?
Pokok Doa: Hati yang bersyukur dan tidak serakah.
