“Do, kok kamu nggak makan? Nggak punya uang, ya?” tanya Bandi yang baru kembali dari kantin. Di tangannya ada roti yang tinggal separuh. “Enggak, aku nggak makan pagi ini,” jawab Edo sambil berusaha terlihat baik-baik saja. Bandi berpikir sesaat, lalu membagi rotinya menjadi dua. “Nih, kamu boleh ambil rotiku. Tapi cuma sedikit, ya,” kata Bandi. “Tapi kan, ini makananmu? Kamu yakin?” tanya Edo. “Nggak apa-apa, buat kamu aja,” ucap Bandi. Tak ragu, Edo melahap roti itu untuk mengisi perut kosongnya sejak pagi.
Adik-adik, terkadang kita merasa ragu untuk memberi karena ha-nya bisa memberi sedikit, sehingga merasa pemberian kita tidak be-rarti. Tuhan Yesus mengajarkan hal yang berbeda! Yuk, kita baca Markus 12:41-44! Jumlah pemberian si janda miskin hanya sedikit, tetapi Yesus berkata bahwa itu adalah pemberian yang paling besar. Mengapa? Karena ia memberi dari hatinya.
Adik-adik, yuk kita belajar untuk memberi! Sedikit tidak apa-apa, yang penting kita tulus dalam melakukannya.
Doa: Bapa di surga, ajar aku untuk mau memberi dengan hati yang tulus. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
