Pada awal tahun 2025, bencana banjir dan tanah longsor menimpa sebuah desa di daerah Pekalongan, Jawa Tengah. Banyak rumah penduduk dan bangunan yang hilang lenyap tak berbekas. Banyak orang tewas karena bencana itu. Banyak kerugian, penderitaan, dan air mata yang terjadi. Dalam peristiwa itu, ada seorang ayah memeluk anaknya sambil menangis keras ketika menemukan anaknya selamat dari bencana itu. Dia bersujud dan tak hentinya berdoa mengucapkan syukur.
Luput dari banjir, membuat orang dapat merasakan syukur yang tak terhingga karena ia tahu bagaimana rasanya berada dalam situasi ketakutan yang tak tergambarkan. Kondisi itu dipakai pemazmur untuk menggambarkan keadaan orang yang diampuni dosanya. Sekalipun banjir besar terjadi, banjir itu tidak melandanya. Sekalipun penghukuman TUHAN menimpa orang berdosa, tetapi orang yang diampuni pelanggarannya tetap dijaga dan dilindungi. Pada waktu kesesakan, ia berseru kepada TUHAN, dan TUHAN sendiri yang bertindak. TUHAN mengangkat beban dosa itu, memberi rasa syukur dan kebahagiaan, seperti orang yang luput dari banjir.
Sahabat Senior, betapa banyak dosa dan pelanggaran kita yang telah diampuni Tuhan. Selayaknya rasa syukur kita melebihi orang yang diluputkan dari banjir dan bencana lainnya.
DOA:
Ya Tuhan, terima kasih karena Engkau meluputkan kami dari penghukuman dosa. Ajar kami merayakan kelegaan kami dengan hidup berkenan kepada-Mu. Amin.
