“Enak ya, punya keluarga seperti keluarganya Nina. Ke gereja datangnya bareng, orang tuanya kalem, enggak ada yang ngomel-ngomel. Enggak seperti keluarga kita, dari tempat parkir saja Papa dan Mama sudah ribut menyuruh kita cepat-cepat,” kata Rika mengeluh kepada kakaknya, Rudi. “Kamu juga sih, siap-siapnya lama. Bagaimana Papa dan Mama enggak ngomel?” jawab Rudi. Teens, manakah yang lebih mirip dengan keluargamu? Keluarga Nina atau keluarga Rika? Lalu, manakah yang lebih memuliakan Tuhan?
Setiap keluarga dibentuk oleh individu-individu yang berbeda. Ada keluarga yang cenderung tenang dan tidak suka keributan. Ada juga keluarga yang mengekspresikan perhatian dan kasih sayang dengan berkata-kata, dan kadang-kadang mengomel untuk saling menegur. Namun, setiap keluarga orang percaya memiliki satu tugas yang sama, yakni memuliakan Tuhan dan mencerminkan kasih Allah dalam kehidupannya. Karena itu, Paulus menasihatkan agar orang-orang percaya mengenakan kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan, baik dalam kehidupan keluarga maupun kehidupan berjemaat. Setiap individu dan anggota keluarga memiliki kelemahan dan kelebihan, dan semuanya harus tetap dikasihi.
Teens, mungkin kamu sering melihat keluarga lain tampak lebih bahagia dan keluargamu tampak penuh kekurangan. Namun, tugasmu bukanlah membandingkannya. Jika ada ketidaksempurnaan dalam keluargamu, tetaplah muliakan Tuhan. Dalam ketidaksempurnaan sebuah keluarga, kasih Tuhanlah yang menyempurnakannya. Karena itu, seperti apa pun keluargamu, kamu harus memperlakukan setiap anggotanya dengan kasih. Dengan mengasihi keluargamu dalam ketidaksempurnaan mereka, kamu memuliakan Tuhan.
