“Pokoknya aku!” Kalimat ini sering kali muncul di kepala Nia karena sehari-hari hidupnya selalu dilayani. Orangtuanya dengan mudah memberikan keinginannya. Mereka memiliki asisten rumah tangga yang menangani segala kebutuhannya. Sikap ini kemudian terbawa ke sekolah. Nia selalu ingin menjadi yang nomor satu. Akibatnya, ketika ia tidak dilibatkan dalam beberapa kegiatan sekolah, perasaan tidak berharga muncul di benaknya.
Menjadi nomor satu! Itulah yang terjadi ketika ibu dari anak-anak Zebedeus datang menemui Yesus dan meminta agar kedua anaknya mendapat tempat yang istimewa di Kerajaan Surga, yaitu duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus. Namun, Tuhan mengingatkan bahwa ia tidak mengerti apa yang dimintanya. “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?” Mereka menjawab, “Kami dapat.” Yesus kemudian menjelaskan bahwa soal duduk di sebelah kanan atau kiri adalah wewenang Bapa di surga. Artinya, siapa yang akan duduk di sebelah kanan atau kiri bukanlah urusan mereka. Yang penting adalah apa yang harus dilakukan selama hidup di dunia, yaitu melayani. Siapa yang ingin menjadi yang pertama, hendaklah menjadi hamba. Melayani Tuhan dan memiliki hati seorang hamba adalah panggilan setiap murid Kristus.
Teens, semangat untuk menjadi nomor satu adalah hal yang wajar. Kita boleh berprestasi dan meraih cita-cita setinggi langit untuk menjadi orang yang terhormat. Namun, kita juga harus ingat bahwa “kehormatan” ala murid Kristus adalah melayani. Kita bisa melayani dengan membantu mengerjakan pekerjaan di rumah, di sekolah, atau di gereja. Mengapa harus melayani? Karena itulah cara terbaik untuk meneladani Tuhan Yesus. Dia, yang adalah Anak Allah, rela turun ke bumi untuk melayani. Maka kita pun harus demikian—rela melayani
