“Janji-Mu seperti fajar pagi hari dan tiada pernah terlambat bersinar. Cinta-Mu seperti sungai yang mengalir dan kutahu betapa dalam kasih-Mu.” Penggalan lirik ini berasal dari nyanyian berjudul “Janji-Mu Seperti Fajar” yang dipopulerkan oleh Nikita. Syair nyanyian ini melukiskan kesetiaan Tuhan pada janji-Nya yang selalu ditepati, laksana sinar mentari di pagi hari.
Daud pernah berada pada masa ketika hidupnya tidak baik-baik saja. Ia dicemooh karena ketaatannya. Di tengah kesesakan hidup, Daud mengingat janji penyertaan Allah kepadanya. Hanya kepada Allah yang telah berjanji menyertainya, Daud berharap. Ia percaya bahwa pertolongan Tuhan akan dinyatakan kepadanya. Inilah yang memberi kekuatan dan penghiburan baginya. Sekalipun dihina dan mengalami penderitaan, Daud memilih untuk tetap taat dan setia kepada Tuhan. Daud taat bukan dengan terpaksa, melainkan dengan penuh sukacita dan rasa merdeka. Ia sadar bahwa hidup di dunia ini singkat. Dalam bagian Mazmur yang lain, Daud pernah menuliskan tentang singkatnya hidup manusia: “Hidup manusia seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi bersemi dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu” (Mzm. 90:5–6). Oleh sebab itu, selama diberi hidup, ia selalu rindu menaati perintah Allah dan hidup senantiasa berkenan kepada-Nya.
Youth, di tengah gumul dan perjuangan hidup masa muda kita, marilah terus taat dan setia kepada Tuhan. Kita sadar bahwa hidup beriman tidaklah mudah. Cemoohan, ejekan, dan pergumulan tak jarang menggentarkan iman kita. Namun, ingatlah selalu akan janji penyertaan Tuhan yang senantiasa digenapi-Nya.
- Mengapa Daud tetap taat beriman kepada Tuhan ketika ia menderita?
- Apa saja yang membuat kita sering gentar untuk hidup taat dan setia?
Pokok Doa: Memiliki hati yang selalu percaya pada janji penyertaan Tuhan
