Pernah mendengar istilah digital idolatry? Secara ringkas, ini adalah fenomena keterikatan (bukan sekadar ketertarikan) dan ketergantungan berlebihan pada gawai atau media sosial. Layar digital dan konten yang ada di dalamnya didaulat sebagai pusat kehidupan. Smartphone menjadi “berhala” modern yang menyita perhatian, waktu, dan prioritas penting lainnya.
Idolatry atau pemberhalaan ciptaan yang menggantikan Sang Pencipta ternyata sudah terjadi sejak lama. Pemazmur mengingatkan akan kecenderungan dosa menyembah berhala ini. Umat TUHAN diajak untuk setia dan taat kepada firman-Nya. Pada saat yang sama, sebagai bahan introspeksi, umat juga diajak menyadari kelemahannya. Salah satu bentuk godaan yang dapat menjatuhkan manusia adalah kecenderungan memberhalakan ciptaan. Pemazmur mengingatkan umat atas kejahatan yang dilakukan leluhur mereka pada zaman Musa. Di Gunung Sinai, mereka membuat patung anak lembu emas dan menyembahnya. Mereka menukar Allah yang terus mengasihi dengan sebuah patung sapi. Mereka lupa akan karya penyelamatan besar yang Allah kerjakan. Mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir, dan laut dibelah agar mereka dapat lewat dengan selamat. Semua itu dikerjakan oleh Allah yang hidup, bukan oleh berhala yang bahkan tidak hidup.
Popularitas, prestasi tinggi, karier cemerlang, dan kelimpahan harta; semua itu adalah berkat Tuhan. Namun, ketika semua itu menjadi pusat hidup, kita sedang membentuk versi lain dari “lembu emas”. Menyebut nama Tuhan, tetapi menyembah yang bukan Tuhan.
- Apa motif bangsa Israel membuat dan menyembah patung lembu emas?
- Langkah apa yang akan kamu lakukan untuk terbebas dari praktik idolatry?
Pokok Doa: Kesadaran bahwa semua pemberian Allah dan mensyukurinya.
