Bayangkan seseorang yang baru saja berhasil membeli tiket artis favoritnya setelah melalui ticket war. Dalam perjuangan mendapatkan tiket hingga akhirnya tinggal selangkah lagi untuk menikmati konser, sukacita sudah dapat dirasakan. Sekalipun konser tersebut masih beberapa bulan lagi, ia sudah sangat antusias dan mendengarkan lagu-lagu sang artis setiap hari. Inilah sukacita yang mendahului realitas. Sukacita telah hadir meskipun pengalaman menghadiri konser itu belum terjadi.
Demikian pula iman dalam Kristus. Sekalipun kita belum berjumpa dengan Kristus, kita tetap bersukacita karena janji keselamatan yang datang daripada-Nya. Petrus menulis surat kepada jemaat-jemaat yang sedang mengalami penderitaan. Ia mengingatkan bahwa anugerah Tuhan adalah sesuatu yang sangat besar dan luar biasa. Sekalipun berada dalam tekanan yang berat, jemaat diharapkan tetap mengarahkan pengharapan ke depan. Hal ini bukan untuk mengingkari atau menyangkal penderitaan, melainkan untuk memusatkan pikiran pada sukacita yang telah Tuhan sediakan. Sikap ini akan membuat jemaat bukan hanya mampu bertahan dalam goncangan, tetapi juga tetap optimis dalam menjalani kehidupan.
Youth, arahkanlah pandanganmu pada sukacita dalam anugerah Kristus. Sekalipun dalam tekanan dan kesesakan, semua itu bukanlah akhir. Justru di sanalah terbuka pintu untuk menemukan sukacita yang lebih besar. Sukacita tidak pernah bergantung pada keadaan atau suasana, melainkan pada iman kepada Kristus. Sebab sumber sukacita adalah Kristus sendiri.
- Apa yang dimaksud Petrus dengan sukacita yang mulia dan tak terkatakan?
- Bagaimana caranya agar kita tetap bersukacita dalam kesesakan?
Pokok Doa: Belajar bersukacita dalam Tuhan di segala keadaan.
