Dalam Yudaisme, seorang imam memiliki peranan penting dalam kehidupan keagamaan. Seorang imam berperan sebagai penghubung umat kepada Allah. Untuk berdoa dan mempersembahkan kurban kepada Allah, umat hanya dapat melakukannya melalui imam. Karena itu, umat akan menaati apa pun yang menjadi perintah imam. Walaupun perintah imam itu terkadang seperti mengada- ada dan sulit untuk dilakukan, umat akan tetap berusaha memenuhinya agar doa dan persembahannya dapat disampaikan kepada Allah. Inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh oknum imam untuk berbuat sewenang-wenang dan mencari keuntungan pribadi tanpa peduli pada kondisi umat.
Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menggantikan posisi imam dan menjadi Imam Besar. Umat tidak lagi perlu berdoa dan memberikan persembahan melalui para imam di dunia. Surat Ibrani menggambarkan perbedaan antara imam Yahudi dan Tuhan Yesus Kristus sebagai Imam Besar. Imam Yahudi tidak peduli dengan kesusahan umat dan justru memanfaatkan umat untuk kepentingan pribadi. Berbeda dengan itu, Yesus Kristus adalah Imam Besar yang turut merasakan penderitaan umat. Ia memahami apa yang menjadi kebutuhan umat. Sebagai Imam Besar, Yesus Kristus bahkan memberikan diri-Nya sendiri sebagai kurban untuk menebus manusia dari dosa.
Youth, kita bersyukur dianugerahkan Imam Besar yang memahami segala pergumulan dan penderitaan. Ia tidak menuntut kurban apa pun dari kita. Sebaliknya, Ia memberi diri-Nya sendiri menjadi kurban penebusan bagi kita, sekali untuk selamanya. Mari kita ungkapkan syukur kita melalui ketaatan kepada-Nya.
-
- Apakah peran Tuhan Yesus sebagai Imam Besar bagi kehidupan manusia?
- Bagaimanakah cara kita menaati Sang Imam Besar dalam kehidupan?
Pokok Doa: Mengucap syukur atas karya kasih Allah bagi umat manusia.
