Kisah Malin Kundang adalah salah satu cerita rakyat yang populer di Indonesia. Legenda asal Sumatera Barat ini mengisahkan seorang anak dari keluarga sederhana bernama Malin Kundang. Anak semata wayang ini diasuh ibunya sejak kecil. Beranjak dewasa, Malin pergi merantau dan menjadi orang yang sukses. Suatu hari ia kembali ke kampungnya bersama sang istri. Ibu Malin datang untuk menyambut Malin. Namun, Malin malu mengakui ibunya yang miskin. Ibu Malin begitu marah dan kecewa. Singkat cerita, Malin pun dikutuk menjadi batu.
Kisah Malin Kundang mengajarkan kita untuk tetap menghormati orang tua meski sudah sukses. Teladan inilah yang diberikan oleh Yusuf. Ia sudah menjadi penguasa Mesir. Status ini tentu membuat hidupnya jauh lebih mapan dibanding ayahnya, Yakub. Setelah pindah ke Mesir, seluruh keluarga Yusuf bergantung padanya. Namun, Yusuf tidak berubah menjadi seperti Malin Kundang. Ia tetap menghormati ayahnya. Saat Yakub meninggal, Yusuf “merebahkan dirinya, mendekap muka ayahnya, menangisi dan mencium dia” (Kej. 50:1). Tindakan sederhana ini menunjukkan bahwa Yusuf tetap merendahkan hati. Ia menempatkan ayahnya pada posisi yang terhormat, meski Yusuf sudah sangat berkuasa.
Teens, kesuksesan tidak membuat Yusuf lupa jati dirinya. Inilah sikap yang perlu kita teladani. Apa pun pencapaian kita hari ini, identitas kita tetaplah anak dari orang tua kita. Tidak mungkin kita ada di dunia ini tanpa mereka. Kesuksesan kita pun tak lepas dari doa dan dukungan mereka. Karena itu, hargai dan hormatilah selalu orang tua kita. Jangan pernah sekalipun merendahkan orang tua meski hidup kita lebih mapan dan sukses. Tetaplah rendah hati dan menghormati orang tua sampai akhir hidup kita. Buatlah mereka bangga atas kesuksesan yang kita raih.
