Secara psikologis, pengharapan adalah keyakinan dan ekspektasi optimis yang mendorong seseorang untuk bertindak dan menghadapi tantangan. Dalam psikologi positif, harapan sering dikaitkan dengan kemampuan untuk melihat kemungkinan baik, menanggapi kesulitan dengan strategi, dan tetap termotivasi. Lalu, bagaimana caranya agar bisa tetap berpengharapan di tengah penderitaan, kesulitan, kegagalan, atau pergumulan besar?
Salah satu cara untuk dapat tetap hidup berpengharapan adalah dengan tidak memusatkan perhatian pada penderitaan atau pergumulan yang sedang mendera. Memusatkan perhatian pada penderitaan akan membuat kita tak mampu lagi melihat jalan keluar. Daripada memusatkan perhatian pada penderitaan, Rasul Paulus mengingatkan agar kita lebih baik mengarahkan pandangan ke depan, pada kemuliaan yang Tuhan sediakan. Artinya, penderitaan yang dialami saat ini bukan akhir dari segalanya. Hal yang lebih baik Tuhan sediakan di depan. Nasihat Rasul Paulus ini didasarkan pada iman kepada Yesus yang telah mengalami penderitaan maha dahsyat, tetapi penderitaan itu tidak dapat menghabisi-Nya karena Dia bangkit.
Youth, penderitaan adalah hal yang pasti kita alami dalam hidup. Daripada meratapi penderitaan yang tak akan menolong apa-apa, lebih baik mengarahkan pandangan pada sesuatu yang dapat kita raih di depan, pada hal baik yang Tuhan sediakan bagi kita. Yakinlah bahwa penderitaan itu tidak akan selama-lamanya. Pada akhirnya kita akan bangkit, menang, mengalahkan penderitaan. Ini akan memberi kita gairah untuk menjalani hidup dengan berpengharapan.
- Apa yang mendasari pengharapan Rasul Paulus di masa depan?
- Harapan apa yang sedang kamu nantikan di depan bersama Tuhan?
Pokok Doa: Tetap teguh berpengharapan sekalipun di tengah kesulitan.
