Polikarpus adalah uskup Smirna pada abad kedua. Ia ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan Romawi karena menolak menyangkal imannya kepada Kristus. Ketika diancam dengan kematian, ia menjawab, “Selama delapan puluh enam tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?” Akhirnya, Polikarpus dibakar hidup- hidup karena imannya.
Stefanus adalah diaken pertama dalam gereja. Ia dikenal sebagai seorang yang penuh iman dan Roh Kudus. Oleh anugerah Tuhan, Stefanus melakukan banyak mukjizat dan tanda ajaib. Karena kalah berdebat dengannya, beberapa orang Yahudi memfitnah Stefanus. Ketika dihadapkan ke Mahkamah Agama, ia justru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan kebenaran melalui sejarah umat Israel. Dengan keberanian, ia menegur para pemimpin agama. Akibatnya, Stefanus dijatuhi hukuman mati. Keberaniannya lahir dari keyakinannya yang teguh akan kebenaran Allah di dalam Kristus.
Sahabat Senior, pada masa kini, kita mungkin tidak dituntut untuk mati bagi Kristus seperti Stefanus atau Polikarpus. Namun, kita tetap dipanggil untuk hidup bagi-Nya. Pertanyaannya, apakah iman kita kepada Kristus sungguh-sungguh mendorong kita untuk setia kepada-Nya dalam segala keadaan?
DOA:
Ya Tuhan, kami mau senantiasa setia dan hidup bagi-Mu dalam segala keadaan. Amin.
