Teens, apakah kamu pernah membaca perintah ketujuh dari Hukum Taurat tentang “Jangan berzina”? Apa yang kamu pikirkan ketika membaca kata berzina? Istilah berzina memang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari pada zaman ini, apalagi di kalangan remaja sepertimu. Kata yang lebih sering digunakan dengan makna serupa adalah “selingkuh”.
Perintah ketujuh, “Jangan berzina”, terdapat dalam Keluaran 20:14 dan Ulangan 5:18. Maksud utama Allah memberikan perintah ini adalah untuk menjaga, melindungi, dan memelihara kebahagiaan pernikahan serta keluarga. Pernikahan adalah sesuatu yang suci di hadapan Tuhan. Pernikahan itu sendiri mencerminkan persekutuan antara Kristus Yesus dengan jemaat-Nya. Selain itu, tubuh kita juga merupakan tempat kediaman Roh Kudus (Efesus 5:28–32; 1 Korintus 6:18–20). Perzinaan merupakan suatu pencemaran terhadap kesucian hubungan antara pria dan wanita yang telah dipersatukan di hadapan Tuhan, sekaligus pencemaran terhadap tubuh yang seharusnya kita jaga kekudusannya. Kita dapat melanggar perintah ini bukan hanya melalui perbuatan zina (melakukan hubungan suami istri dengan pasangan yang bukan suami atau istri yang sah). Tuhan Yesus berkata bahwa dosa zina juga dapat berasal dari pikiran dan keinginan yang kotor: “Setiap orang yang memandang perempuan hingga menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:27–30). Oleh sebab itu, Tuhan Yesus meminta kita membuang sifat-sifat tidak susila dari hati dan pikiran kita.
Teens, hati-hati dengan pikiranmu. Ketika kamu memikirkan sesuatu yang tidak baik, pikiran itu berpotensi menjadi tindakan yang tidak baik. Jangan sampai pikiran kita menjerumuskan kita. Mari kita menjaga hati dan pikiran dengan selalu menggumuli firman Tuhan.
