Pak Slamet adalah penjual batagor di depan gereja. Dari tempatnya berjualan, sayup-sayup terdengar suara dari ruang ibadah. Ia mendengarkan dan bertanya-tanya dalam hati. Saat Pak Nuel membeli batagor, ia bertanya ragu-ragu, “Pak, kok di gereja orang sering mengucapkan kata haleluya. Apa artinya?” Kebetulan Pak Nuel senang membaca. Ia sering meminjam buku di perpustakaan gereja. Pak Nuel menjawab, “Haleluya berarti terpujilah Tuhan. Kata halel artinya terpujilah. Kata ya itu singkatan dari Yahwe atau Tuhan.” Pak Slamet mengangguk-angguk dan berterima kasih.
Sahabat Senior, kata haleluya sering terucap dalam percakapan dan nyanyian. Namun, apakah orang yang mengucapkannya benar-benar hidup bersyukur dan memuji Allah? Melalui Mazmur 149, pemazmur mengajak semua orang bersyukur. Sebab TUHAN telah melakukan banyak hal baik dalam hidup umat-Nya. Mulai dari penciptaan, keselamatan, pembebasan, serta kehormatan. Pada akhirnya, pemazmur menutupnya juga dengan kata haleluya. Bagi pemazmur, memuji TUHAN itu dari awal hingga akhir. Di seluruh hidupnya, sudah seharusnya manusia memuji TUHAN.
Apakah Sahabat Senior lebih sering memuji Tuhan atau malah mengeluh kepada Tuhan? Semoga lebih sering memuji Tuhan, ya. Mengeluh boleh-boleh saja, asal jangan berlebihan. Sebab, Tuhan sudah memberi banyak berkat. Cobalah hitung!
DOA:
Ya Tuhan, terima kasih untuk kebaikan-Mu dalam hidup kami. Beri kami kemampuan untuk bersyukur setiap saat karena kebaikan Tuhan juga terjadi pada setiap detak jantung kami. Amin.
