Pernahkah kamu menanam sesuatu dan menunggu lama hingga akhirnya tumbuh? Dari benih kecil yang tampak tidak berarti, kamu merawatnya dengan sabar: menyiramnya setiap hari, memastikan tanaman mendapat cukup sinar matahari, dan menjaganya dari gangguan. Hari demi hari berlalu tanpa banyak perubahan, tetapi kamu tetap setia menanti. Hingga suatu pagi, tunas kecil itu muncul, memberi tanda bahwa usahamu tidak sia-sia.
Begitulah rasanya ketika Paulus mendengar kabar tentang jemaat di Tesalonika. Firman Tuhan yang dahulu ia taburkan di antara mereka ternyata bertumbuh dan menghasilkan iman yang nyata. Paulus bersyukur karena firman yang disampaikannya benar-benar bekerja di dalam hati mereka. Mereka mendengarnya bukan sekadar sebagai “perkataan manusia”, melainkan sebagai firman Allah yang hidup dan berkuasa. Firman Tuhan tidak bertumbuh hanya karena sering didengar, tetapi karena sungguh-sungguh dilakukan. Hasilnya terlihat: mereka tetap kuat, tetap setia, dan terus menjadi berkat meskipun menghadapi tekanan.
Youth, kita hidup pada masa ketika firman Tuhan dapat diakses dari mana saja. Pertanyaannya, apakah firman itu hanya singgah atau sungguh-sungguh bertumbuh? Firman yang kita baca dan dengar perlu direnungkan serta dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kesetiaan dalam mendengar seharusnya diikuti dengan kesediaan untuk melakukan. Maka, biarlah setiap firman yang didengar melalui khotbah, renungan, atau konten rohani tidak berhenti di layar, melainkan tumbuh di dalam hati dan nyata melalui tindakan setiap hari.
- Mengapa Paulus bersyukur atas jemaat Tesalonika menurut ayat 13?
- Apa firman Tuhan yang baru-baru ini mengubah cara pandangmu?
Pokok Doa: Kemauan untuk melakukan firman Tuhan.
