Apa yang kamu rasakan ketika melihat temanmu menjadi juara, bintang kelas, memiliki ponsel mahal, atau memakai sepatu bermerek terkenal? Sebagai manusia, wajar bila rasa iri muncul di hati. Namun, bila iri hati dibiarkan, hal itu dapat merusak dirimu sendiri.
Perumpamaan tentang orang upahan di kebun anggur mengingatkan kita akan bahaya iri hati. Para pekerja mulai bekerja pada waktu yang berbeda-beda. Ada yang mulai pagi-pagi sekali, pukul sembilan pagi, pukul dua belas siang, pukul tiga sore, bahkan pukul lima sore. Ketika tiba waktunya pembayaran upah, sang tuan memberikan satu dinar kepada setiap orang, sesuai dengan kesepakatan awal. Pekerja yang mulai paling pagi bersungut-sungut karena merasa tidak adil—ia menganggap dirinya bekerja lebih lama daripada yang lain. Namun, sang pemilik kebun menegaskan bahwa ia tidak berlaku tidak adil, sebab kesepakatan mereka memang satu dinar sehari. Pemilik kebun menyadari bahwa keluhan itu timbul dari iri hati. Karena itu, ia berkata, “Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”
Teens, iri hati membuat kita merasa hidup harus selalu bersaing, merasa tidak pernah cukup, dan sulit berbahagia ketika melihat keberhasilan orang lain. Iri hati muncul bukan karena kita tidak memiliki kelebihan apa pun, melainkan karena terlalu fokus pada kelebihan orang lain dan perasaan kalah. Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengoreksi hati, agar tidak terus membandingkan diri dengan orang lain, melainkan melatih diri untuk mensyukuri berkat Tuhan. Tuhan menginginkan kita bertumbuh menjadi pribadi yang bersukacita ketika orang lain diberkati, bukan merasa tersaingi. Jangan iri terhadap temanmu karena keberhasilan atau kelebihannya, sebab setiap orang memiliki berkatnya sendiri— termasuk kamu juga.
