Kita sering mengajarkan kepada keluarga kita tentang sopan santun dalam berdoa. Ada hal yang boleh dan tidak boleh kita lakukan atau utarakan kepada Tuhan. Salah satunya adalah larangan menggunakan kata-kata kasar atau menuntut Tuhan untuk menjawab doa sesuai dengan kehendak kita.
Namun, dalam bacaan hari ini, pemazmur menggunakan kata-kata yang terdengar kasar dalam doanya kepada TUHAN. Empat kali ia mengucapkan, “Berapa lama lagi?” karena TUHAN tidak menjawab doa-doanya. Ia pun menambahkan kata-kata yang terdengar lebih keras, yakni menuduh TUHAN melakukan pembiaran terhadap penderitaannya: “Kau lupakan aku terus- menerus,” “Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku,” “Aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku dan bersedih hati sepanjang hari,” dan “Musuhku meninggikan diri atasku?” Lalu, muncul pula kalimat perintah kepada TUHAN, seperti “pandanglah,” “jawablah aku,” dan “buatlah.” Semuanya terdengar tidak sopan. Kira-kira, apakah TUHAN marah kepada pemazmur?
Sahabat Senior, doa pemazmur bukanlah tanda ketidaksopanan kepada Tuhan, melainkan tanda pentingnya doa yang jujur kepada Tuhan. Tuhan menerima setiap doa yang lahir dari hati yang murni, apa adanya, termasuk ketika ada kalanya kita marah dan kecewa terhadap jawaban, cara, dan waktu Tuhan, bahkan kecewa terhadap hidup kita sendiri.
DOA:
Tuhan, ajari kami berdoa secara otentik, apa adanya, serta lahir dari kemurnian hati dan pikiran kami. Dalam Kristus, kami berdoa. Amin.
