Dunia yang kita tinggali senang menilai seseorang berdasarkan standar-standar tertentu. Misalnya, anak pertama dianggap memiliki hak lebih dibanding anak-anak lain. Ada juga penilaian berdasarkan gender, seperti laki-laki dianggap lebih kuat dibanding perempuan. Tidak jarang anggapan seperti ini menimbulkan konflik, bahkan sesungguhnya melanggengkan praktik ketidakadilan di tengah masyarakat.
Ternyata, hal yang sama sudah terjadi sejak zaman Yakub. Saat anak-anak Yusuf akan diberkati oleh Yakub, mereka ditempatkan ayahnya sesuai dengan kebiasaan yang ada. Manasye, si sulung, ditempatkan di sebelah kanan Yakub agar mendapat berkat terbesar. Sementara itu, Efraim ditempatkan di sebelah kiri. Namun, Yakub justru menyilangkan tangannya. Ia menumpangkan tangan kanan kepada Efraim, si bungsu. Yusuf mencoba membetulkan posisi itu, tetapi Yakub menegaskan bahwa TUHAN punya rencana yang berbeda. Keduanya akan menjadi bangsa besar, tetapi Efraim akan lebih besar daripada Manasye. Memang, di kemudian hari banyak pemimpin Israel yang berasal dari suku Efraim.
Teens, kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Ia tidak terikat pada standar dunia. Siapa yang lebih tua belum tentu menjadi yang lebih besar. Tuhan punya rancangan yang melampaui semua itu. Karena itu, jangan menilai karya Tuhan dengan memakai ukuran manusia. Di hadapan-Nya, semua orang setara dan masing-masing punya peran unik. Saat ada perbedaan peran atau pencapaian di dalam keluarga maupun pertemanan, jangan sampai hal itu merusak relasi. Kita tidak perlu iri atau berlomba menjadi “yang paling hebat”. Yang Tuhan cari bukanlah siapa yang paling menonjol, melainkan hati yang rela menjalani panggilan-Nya. Belajarlah menghargai setiap peran yang Tuhan beri karena semuanya berharga di mata-Nya.
