Tidak sedikit orang yang hidup dengan prinsip “yang penting sekarang bahagia.” Media sosial dipenuhi unggahan tentang pencapaian, kesenangan, dan gaya hidup bebas. Banyak mahasiswa rela berbuat curang dalam ujian demi cepat lulus dan terlihat sukses. Alasannya sederhana: hidup terasa singkat dan penuh tekanan sehingga ingin menikmati segalanya sesegera mungkin. Namun, ketika target tercapai, yang tersisa justru kekosongan dan rasa bersalah yang sulit disembunyikan di balik senyum unggahan digital.
Alkitab mengingatkan bahwa Kristus adalah buah sulung kebangkitan. Kebangkitan Yesus bukan sekadar peristiwa rohani di masa lalu, melainkan jaminan bahwa hidup manusia tidak berhenti di kubur. Jika Kristus bangkit, maka masa depan orang percaya tidak berakhir di dunia ini. Pengharapan kebangkitan memberi makna baru pada perjuangan, ketaatan, dan kesetiaan, bahkan ketika semua itu tidak langsung mendatangkan popularitas atau keuntungan. Hidup bukan sekadar tentang “menang sekarang”, melainkan tentang kesetiaan menuju kekekalan. Pernyataan “Kristus telah dibangkitkan” berarti bahwa hidup kita bukan hanya untuk saat ini, tetapi untuk kekekalan, saat kita juga dibangkitkan seperti Kristus.
Youth, iman kepada Kristus yang bangkit memanggil kita untuk hidup dengan tanggung jawab. Hidup ini memang sementara, tetapi bukan berarti boleh dijalani sembarangan. Setiap pilihan—dalam studi, pekerjaan, relasi, dan integritas—memiliki nilai kekal. Dengan memandang Kristus sebagai buah sulung kebangkitan, kita belajar hidup penuh harapan, tidak putus asa, dan berani memilih yang benar, sebab hidup kita sedang diarahkan menuju kemuliaan yang lebih besar bersama Dia. (EDP)
- Mengapa Yesus disebut sebagai buah sulung kebangkitan?
- Mengapa kebangkitan Kristus menjadi dasar harapan bagi kehidupan di kekekalan?
Pokok Doa: Tidak hanya mengejar pencapaian dan kehidupan di dunia.
