“Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Peribahasa ini bermakna tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus pada akhirnya akan menghasilkan sesuatu yang besar. Peribahasa ini biasanya dipakai untuk menekankan pentingnya konsistensi dan kesabaran dalam mencapai tujuan. Namun, ini juga bisa terjadi dengan tindakan yang tidak menyenangkan. Jika seseorang terus-menerus mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan dan memendamnya dalam hati, lama-kelamaan akan membuahkan amarah seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Yakub sudah tidak dapat lagi memendam perasaannya yang bertumpuk bertahun-tahun. Ia sudah bekerja bagi Laban selama dua puluh tahun, tetapi berkali-kali ia dikelabui dan upahnya diubah sepuluh kali. Akhirnya Yakub memutuskan untuk meninggalkan Laban dengan membawa Lea dan Rahel beserta anak-anak mereka. Laban tidak tinggal diam. Ia mengejar Yakub dan keluarganya, serta menuduh Yakub mencuri terafim, patung pelindung keluarga milik Laban –yang sebenarnya diambil Rahel tanpa sepengetahuan Yakub. Yakub pun tidak dapat menahan amarahnya. Ia marah dan mengutarakan semua perasaan sakit hatinya kepada Laban. Untungnya, mereka tidak menyelesaikan pertikaian mereka dengan kebencian, apalagi pertumpahan darah. Mereka pun menyelesaikan masalah dengan mengikat perjanjian di hadapan TUHAN.
Teens, dalam kehidupan bersama, kadang kala perasaan tidak nyaman akan muncul karena perlakuan orang lain, baik sengaja maupun tidak. Jika ini terjadi, janganlah memendam kemarahan berlarut-larut, sebab itu akan menjadi bom waktu. Jika kamu merasa tidak nyaman, sebaiknya utarakan tanpa menyinggung perasaan. Lalu carilah solusi bersama yang tepat untuk semua pihak. Dengan demikian, kamu terhindar dari bom waktu yang dapat melukai diri sendiri dan orang lain.
